Martoyo Harjono
Leadership

Golf Leadership: 5 Critical Lessons from Golf

Hallo teman-teman para golfers, kali ini saya akan melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Leadership Itu Seperti Bermain Golf”  yang sempet viral dibaca lebih dari 1.000 kali dalam waktu singkat oleh para gofers. Bahkan tulisan ini pernah beredar di WAG yang berisi para ex menteri dan pimpinan BUMN. Saya pernah di share screen shoot oleh senior saya ILUNI MMUI yang tergabung didalam WAG tersebut. Dari beberapa tulisan saya di blog ini, ternyata ini tulisan dengan pembaca terbanyak. Banyak komen dan feedback positif disampaikan langsung oleh rekan-rekan ke saya, untuk melanjutkan tulisan edisi #GolfLeadership ini. Untuk menggali lagi insight dan lesson learnt dari olahraga golf ini. Terutama untuk golfers yang sekaligus para leader dan decision maker di tempat bekerja saat ini.

Tidak sekedar sebagai hobi yang menyehatkan, ternyata banyak insight yang bisa didapatkan dari olahraga golf ini, terutama jika dikaitkan dengan leadership dan bisnis. Selain 12 poin yang pernah saya jabarkan sebelumnya di artikel “Leadership Itu Seperti Bermain Golf” , kali ini saya akan menambahkan 5 poin penting terkait Golf Leadership dari permainan golf ini. Apa saja itu? Yuk ah simak langsung aja ya:

1. Yang kita kalahkan adalah diri sendiri, bukan orang lain

Fokus pada diri kita, bukan fokus kepada orang lain atau lawan main kita. Fokus pada kekurangan kita? Apa saja self improvement yang harus kita lakukan setiap saat bermain golf?

Pokoknya fokus pada permainan dan strategi bermain kita sendiri, tujuan utama kita adalah mendapatkan score terbaik, bagaimana cara menurunkan handicap kita. Bukan mengalahkan pairing/ lawan kita. Justru, ketika kita fokus mengalahkan orang lain, sering permainan kita menjadi jelek, kurang akurat, jadi snewen sendiri dan tidak enjoy.

Nah, untuk menjadi seorang leader yang sukses dan hebat, kita harus fokus kepada self improvement dan self development untuk meningkatkan kapasitas knowledge, skill dan attitude diri kita. Setiap hari kita harus menjadi pribadi dan leader yang lebih baik. Selalu enjoy menikmati proses pengembangan diri ini, untuk better-bigher-higher!

2. Senang melihat teman bermain bagus

Melihat teman kita bagus, bahkan lebih bagus dalam permainan, kita pun ikut senang. Karena justru kita bisa benchmarking, belajar strategi, pukukan dan swing seperti apa yang dilakukan kawan kita ini. Kok bisa lebih bagus permainannya? Jadi, dengan pairing dengan kawan yang lebih jago, maka kita akan tertular menjadi jago juga, minimal menginspirasi kita untuk terus belajar, mencontohnya menjadi lebih baik.

Dalam bisnis dan networkingpun juga demikian, carilah teman dan partner bisnis yang hebat atau lebih hebat yang punya growth mindset, maka kita pun akan tertular menjadi hebat. Seperti dalam jargon ini “pendapatan kamu adalah rata-rata dari pendapatan 5 orang teman baik kamu”.

Bahkan kita pun bisa belajar berbagai hal lain dari tim dibawah kita juga. Ikut senang jika tim kita bisa lebih sukses dan lebih hebat dari kita. Karena sejatinya kesuksesan tim kita adalah juga kesuksesan kita sebagai leader. Seorang leader hebat akan senang melihat orang lain sukses, bukan senang ketika melihat orang lain susah.

Leader sejati adalah yang mampu menciptakan leader-leader selanjutnya.

3. Style sesuai selera, namun tujuan sama

Gaya pukulan dan swing sangat bervariasi setiap golfer, berbeda sesuai selera masing-masing. Sesuaikan dengan profile, tinggi badan dan kebiasaan kita masing-masing. Yang penting tujuan utama adalah memasukan bola golf ke hole. No right no wrong. Yang diihitung adalah score jumlah pukulan, semakin sedikit pukulan semakin bagus. Handicap semakin rendah.

Style leadership pun beragam setiap orang, sesuaikan dengan latarbelakang keluarga, pendidikan dan pengalaman kerja masing-masing. Yang penting bisa mencapai target dan KPI perusahaan, membuat tim dan perusahaan selalu tumbuh.

Leadership is ART, kepemimpinan itu seni. Namanya seni tidak ada aturan baku dan kaku. Ibarat lagu, ada yang suka keroncong, jazz, pop, rock, gamelan bahkan mocopat. Sepanjang bisa dinikmati dan enak didengarkan, silakan saja. Sesuaikan style leadership kita sesuai dengan keNYAMANan kita masing-masing. Create your own style, not others. Be Yourself !! 

4. Selalu amati tantangan dan faktor external secara cermat

Setiap lapangan golf punya keunikan yang berbeda-beda, seperti kondisi lapangan, landscape, kemiringan, ketebalan dan jenis rumput, apakah banyak bebatuan, apakah ada kolam dan bunker disekitarnya, plus apakah ada angin dan angin sedang ke arah mana saat mau memukul. Semua tantangan dan faktor alam itu harus dipikirkan sebelum memukul bola. Karena akan menentukan jenis dan nomor stick golf yang akan kita pakai, menentukan pegangan shaft dan posisi kepala klub. Termasuk posisi berdiri kuda-kuda dan power saat mukul.

Bulan lalu, saya berkesempatan pairing di event akhir tahun IFGC dengan Pak Eddy Martono, senior MMUI yang sudah lebih dari 25 tahun bermain golf, salah satu aktivis Pergola UI. Ada yang menarik saat itu, saat di Par 3 Pak Eddy memutuskan menggunakan Driver Wood 1, hal yang tidak biasa. Biasanya Pak Eddy menggunakan Driver Wood 1 untuk PAR 4 & 5 saja. Setelah beliau memukul bola saya pun bertanya mengapa kok memutuskan pakai Driver Wood 1. Ternyata, pertimbangannya adalah arah dan kekuatan angin yang berhembus sesaat sebelum memukul. Memang saat itu angin berhembus sangat kencang dengan arah yang berlawanan. Dan ternyata keputusan itu tepat, pukulan langsung ON. Saya pun tinggal nyontek saja dari senior, ternyata sama langsung ON juga. Thanks contekannya Pak Eddy…hehe.

Untuk menghasilkan keputusan bisnis yang baik dan lengkap, seorang leader dituntut untuk mempertimbangkan dan menghitung dampak dari tantangan dan faktor-faktor ekternal. Seperti dalam Theory Five Forces nya Michael Porter, dimana seorang leader dituntut mampu memahami kekuatan perusahaan untuk memenangkan persaingan dalam industri. Untuk memenangi persaingan leader dituntut untuk memahami lima hal yaitu: 1. hambatan bagi pendatang baru, 2. kekuatan daya tawar pemasok, 3. daya tawar pembeli, 4. hambatan produk pengganti, dan 5. tingkat persaingan dengan kompetitor.

Apalagi diera disruptif dan persaingan bisnis yang sangat kompetitif ini, dimana selera konsumen yang cepat berubah dan kebijakan pemerintah yang juga sering berubah diera pandemi ini. Mengamati faktor ekternal adalah menjadi kewajiban bagi para leader sebelum mengambil keputusan strategis. Agar yang dihasilkan adalah keputusan terbaik.

Persis seperti permainan golf bukan?

5. Siapkan tools yang lengkap, gunakan sesuai kebutuhan dilapangan

Saat bertanding dilapangan, berbagai jenis dan ukuran stick golf kita siapkan lengkap. Apakah semuanya akan dipakai? jawabnya belum tentu. Tergantung kebutuhan saat di lapangan nanti. Bahkan untuk mengantisipasi hujan pun, payung kita siapkan, padahal belum tentu hujan juga kan?!

Nah, untuk menjadi leader yang hebat pun kita dituntut untuk mempersiapkan diri kita dengan berbagai kompetensi seperti: finance literacy, communication skill, problem solving, decision making, networking, presentation, marketing skill dan leading people dll. Jadi saat diperlukan dalam bisnis, kita sudah siapkan berbagai kompetensi tersebut. Jikapun kita tidak menguasai semuanya, minimal kita sudah kuasai dan asah kompetensi-kompetensi utama yang dibutuhkan didalam role di perusahaan dan industi kita. Insyallah lancar jaya dan cuan pun datang.

Bukankah orang yang mempunyai senjata lebih lengkap mempunyai competitive advantage dalam memenangkan sebuah pertandingan dan kesempatan yang ada. Seperti dalam rumus ini, KESUKSESAN adalah bertemunya PREPARATION dengan OPPORTUNITY.

————————————

Mudah-mudahan ke-lima poin pembelajaran #GolfLeadership diatas menjadi penyemangat rekan-rekan golfer. Karena selalu ada lesson learnt di saat bermain golf. Jadi ada alasan yang kuat untuk bermain golf, karena akan mendukung kompetensi ledership skill kita dan ujungnya kinerja pun akan meningkat.

So, selalu ada justifikasi saat bermain golf. Exit permit jadi lancar. Ha ha ha..!

Salam Olahraga, Martoyo

#IFGC #FEBUI #GolfLeadership #strategy #leaderInsight

 

 

 

 

Related posts

Radical Candor: Be A Kick-Ass Boss…

Martoyo Harjono

Mental Kepiting vs Semut

Martoyo Harjono

4 Cara Untuk Lebih Memahami Kekecewaan di Tempat Kerja

Martoyo Harjono

Leave a Comment