Martoyo Harjono
Human Resources Leadership

Menghapus Rasa Takut

melawan_rasa_takut_by_vickykaem-d6180mm

Hal yang paling saya sukai saat jalan-jalan ke Mall adalah mampir ke toko buku, dan biasanya saya suka mampir ke display buku yang terkait dengan kepemimpinan dan manajemen. Siapa tau ada buku-buku baru dan bagus yang baru di muncul. Nah, saat mampir ke toko buku Gramedia Depok, mata saya langsung tertuju sebuah buku dari Brian Tracy yang berjudul Full Engagement. Buku ini bercerita mengenai bagaimana mengsinpirasi, memotivasi dan menggali potensi terbaik karyawan kita. Dari berbagai topik yang dibahas, saya tertarik dengan topik yang berkaitan dengan bagaimana mengenyahkan rasa takut

Saya akan coba share intisari dari topik ini sebagai bahan pembelajaran buat kita.

“Apa yang ada didepan kita, dan apa yang ada dibelakang kita, adalah persoalan kecil dibandingkan apa yang sedang kita hadapi” – Ralph W. Emerson –

Apa yang menjadi halangan terbesar kita untuk sukses, bahagia dan berprestasi? Jawabanya adalah RASA TAKUT dalam bentuk apapun.

Rasa takut selalu menjadi musuh terbesar manusia. Banyak pribadi yang gagal dan hancur karena rasa takut dibandingkan faktor lain. Banyak bisnis yang gagal karena rasa takut, bisa takut untuk berinovasi, takut untuk melepas area nyaman selama ini (comfort zone) dan takut think out of the box. Bahkan, banyak penyakit psikosomatik dikarena rasa takut ketimbang faktor lainnya.

Mengurangi atau menghilangkan rasa takut merupakan kunci untuk menjadi pribadi yang sepenuhnya berguna, bahagia dan sukses. Salah satu rekomendasi paling penting dari W. Edwards Deming, yang merombak pengendalian mutu ala Jepang tahun 1960-an dan 1970-an, adalah “mengenyahkan rasa takut”. Ia menyimpulkan bahwa kebalikan dari rasa takut adalah suasana kerja yang penuh inovasi, kreativitas, spontanitas, menghargai ide dan gagasan, energy yang lebih tinggi dan produktifitas yang lebih baik dan selalu meningkat. Di dalam lingkungan kerja dimana setiap orang tidak merasa takut untuk melakukan dan mencoba sesuatu yang baru, tidak takut untuk mengemukakan pendapat, ide/ gagasan untuk mendorong kinerja yang lebih baik lagi.

Tempat bekerja yang baik

Ketika karyawan merasa bebas untuk mencoba hal-hal baru atas pekerjaannya agar pekerjaannya dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif, agar kualitas pekerjaan meningkat, agar pelayanan kepada pelangan makin oke dan keren, yang intinya karyawan akan memfokuskan seluruh energy, resources dan kompetensi yang dimiliki untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih baik.

Seperti yang pernah di sebutkan ahli psikologi dunia, Abraham Maslow, dalam teorinya menyebutkan bahwa harga diri dan aktualisasi diri sebagai “kebutuhan manusia”. Inilah kebutuhan-kebutuhan manusia untuk memenuhi potensi individunya dan lebih menjadi sosok pribadi yang benar-benar mampu di wujudkannya. Jadi, ketika Anda mengenyahkan rasa takut, yang akan muncul adalah sosok pribadi yang paling berproduktif dari diri Anda.

Dalam teori X dan Y nya, Herzberg tersirat disebutkan bahwa, sebuah lingkungan kerja dimana orang-orangnya tidak merasa takut melaksanakan pekerjaan mereka sebaik mungkin, tanpa takut akan cemoohan dan kritikan, adalah hal penting untuk memunculkan potensi terbaik di dalam diri seseorang dan mengeluarkan potensi tersembunyi dari setiap individu.

Akan sangat di sayankan jika tim kita hanya mengeluarkan sebagian kecil dari potensi yang mereka miliki, bukannya mereka tidak mau mengeluarkannya, namun karena rasa takut dan rasa tidak nyaman untuk mengeluarkan seluruh potensi yang dimiliki.

Setiap orang takut

Sesunguhnya setiap orang itu di hingapi rasa takut terhadap banyak hal. Rasa takut akan apapun, baik besar maupun kecil, disadari atau tidak disadari, akan menghalangi dan melumpuhkan terciptanya tindakan dan pencapaian seseorang.

Saat rasa takut itu muncul didalam pikiran manusia karena kebutuhan akan keamanan dan keselematan seperti yang diterangkan oleh Maslow, seseorang segera berpikir untuk mengurangi atau menghindari situasi ketimbang memaksimalkan performa dan efektivitas.

Menghapus ketakutan yang menjadi penghalang

Di dunia kerja dan professional, salah satu tugas dari manajer, guna mengeluarkan potensi tak terbatas dari karyawannya, adalah mengnyahkan semua jenis ketakutan di tempat kerja. Untuk melakukan hal ini, pertama-tama Anda harus mengetahui dari mana rasa takut ini mempengaruhi diri Anda secara pribadi, dan apa yang dapat Anda lakukan untk meminimalkan rasa takut baik di dalam diri Anda maupun orang lain.

Melenyapkan rasa takut gagal

Anda dapat mencegah pemikiran negatif dengan menggantikan sebuah pemikiran positif. Mungkin cara paling jitu menghapus rasa takut akan kegagalan dan perasaan “Saya tidak bisa, saya tidak bisa” adalah dengan mengatakan “Saya bisa melakukannya. Saya bisa melakukannya! Saya bisa melakukan apapun yang menjadi focus perhatian saya!”

Ketika Anda mengulang terus menerus kata-kata, “ Saya bisa melakukannya”, rasa takut Anda akan kegagalan akan berkurang dan rasa percaya diri Anda akan meningkat luar biasa. Ketika Anda mengatakan kata-kata ajaib ini berulang kali, maka pesan-pesan negatif dan ganjalan-ganjalan masa lalu lama-lama akan mudah disingkirkan. Anda mulai menjadi pribadi yang baru. Anda mulai membentuk kepribadian Anda sendiri.

Saya pun juga pernah mengalami rasa takut saat lulus SMA dan diterima kuliah luar kota di UI Jakarta, karena berasal dari daerah dan belum pernah sekalipun ke Jakarta sebelumnya, plus tidak ada saudara yang tinggal di Jakarta. Berbagai rasa takut yang ngak jelas itu pun muncul tiba-tiba. Namun dengan niat yang kuat dan fokus pada tujuan, maka lengan baju pun disingsingkan dan siap siaga untuk menghadapi berbagai rasa takut itu. Akhirnya semua rasa takut itu hanyalah bayang-bayang yang akan hilang dan bisa diatasi. Jika kita fokus pada tujuan, maka rasa takut itu bagaikan bumbu penyedap yang akan menambah gurih dan lezatnya sebuah hasil pencapain nanti. Tentunya Anda juga pernah mengalami rasa takut dengan berbagai versi masing-masing dan Anda pun berhasil mengatasinya.

Menetralkan rasa takut

Salah satu tugas manajer, supervisor maupun team head adalah menetralkan rasa takut akan kegagalan, pola kebiasaan yang negative dan bersifat menghalangi, dalam diri orang-orang yang Anda pimpin. Anda melakukan hal ini dengan mengatakan kepada mereka bahwa tidak akan bentuk penghukuman apapun bila membuat sebuah kesalahan. Manakala Anda memberi tugas, Anda mendorong tim untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, lalu Anda menjelaskan bahwa jika terjadi kesalahan, Anda akan menggunakannya sebagai sebuah pengalaman yang memberikan pembelajaran dan teruslah melangkah.

Menariknya, para pemimpin tidak pernah membicarakan kegagalan dalam segala hal yang mereka kerjakan. Sejauh yang diketahui para pemimpin, tidak ada namanya kegagalan. Sebaliknya mereka menggunakan kata-kata seperti “pengalaman yang memberikan pembelajaran” atau “umpan balik yang menarik” atau “hasil yang kurang sempurna”. Akan tetapi mereka tidak pernah menggunakan kata-kata negatif seperti “gagal”, “goblok”, “stupid” atau kata sepadan lainya.

Sejauh yang diketahui para pemimpin, tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada adalah pembelajaran. Dan itu semua merupakan bagian dari proses bisnis yang tidak bisa dihindarkan.

Jika misalnya kita mengalami kesalahan/ kegagalan, kita dorong tim kita untuk pertama-tama mengatakan “Saya bertanggung-jawab”. Begitu seseorang menerima bahwa mereka bertanggung jawab atas apa yang terjadi maka tidak perlu lagi mencari-cari berbagai alasan dan dalih. Begitu Anda menerima tanggung jawab, masalah yang terjadi tidak penting lagi. Hal kedua yang harus dilakukan adalah melontarkan pertanyaan “Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian dan situasi ini?” lantas, kita bisa mendiskusikan kesalahan atau masalah tersebut seolah-olah terjadi pada orang lain di perusahaan yang berbeda. Ini semua untuk menghadapi masalah dengan senetral mungkin. Kemudian periksa dari berbagai segi dan open-minded untuk melihat hikmah yang dapat di ambil dari kesalahan tersebut yang akan memampukan kami untuk menjadi lebih bijak dan membuat keputusan yang lebih baik di masa mendatang.

Selamat mencoba dan selamat menjadi pribadi yang mampu menaklukkan rasa takut. Karena kesuksesan itu bersama pribadi-pribadi yang pemberani, bukan pribadi yang penakut.

Note: Tulisan ini adalah repost tulisan saya yang di muat di E-Lintas Media 1st edition (USG Boral Indonesia), Jan 2015.

Salam Good to GREAT

Related posts

Training Problem Solving and Decision Making

Martoyo Harjono

“Tips Sukses di Karir” @Pesma YKM FEUI

Martoyo Harjono

Why Not, Sir..?

Martoyo Harjono

Leave a Comment