Martoyo Harjono
Family Personal

Ayah, You Are My Inspiration

Ayah,

Di saat yang lain masih terlelap tidur, engkau sudah bangun menyongsong hari

Jauh sebelum adzan subuh berkumandan, engkau bangunkan tubuhmu dengan sangat perlahan

Sangat perlahan, demi tidak membangunkan istri dan anak-anak tercintamu

Menanak nasi dan memasak air menjadi rutiniitas pagi, agar sudah siap saat anak-anakmu terbangun

Membersihkan kandang dan menyiapkan makan pagi untuk kelima kerbau peliharaan kau lakukan setiap pagi

Kerbau yang membantu tuk membajak sawah itu kau pelihara dengan sepenuh hati, bagai anak-anakmu sendiri

Kau bekerja di sawah dari pagi sampai sore hari

Kantormu adalah sawah, temanmu adalah tanaman padi yang menghidupi keluargamu

Mencangkul sawah, membersihkan rumput dan memupuk tanaman adalah job description utamamu

Bagimu bertani adalah tidak sekedar sumber pendapatan, tapi juga kebahagiaan dan panggilan jiwamu

 

Ayah,

Meskipun kau hanya lulusan Sekolah Rakyat (setingkat Sekolah Dasar), namun cita-citamu tinggi tuk menjadikan kelima anakmu menjadi sarjana

Kau selalu bekerja keras demi kesuksesan anak-anakmu

Tekadmu sungguh kuat tuk bisa menyekolahkan anak-anakmu

Pengorbanan apapun kau lakukan demi itu semua

Saat anakmu minta sepeda motor baru, kau pun menasehati kami untuk tidak tergoda dan tetap focus sekolah

Kau rela tidak jajan di warung soto di pinggir sawah itu, demi untuk sekolah kelima anakmu

Masakkan istri pun menjadi masakan terenak bagimu

Kau pun rela menunda kebahagiaan untuk dirimu demi menyekolahkan anakmu

Semua kau lakukan demi masa depan anak-anakmu

 

Ayah,

Di saat anak-anakmu sakit, kau yang pertama mendekap dengan erat

Kau gendong dengan selendang batik

Kau pijat dengan penuh kasih sayang

Semua kau lakukan ditengah kesibukan disawah

Semua kau lakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan

 

Ayah,

Walau anakmu empat laki-laki, belum pernah tanganmu menampar mereka

Saat anak putri pertama dan semata wayangmu telat pulang dari kampus di kota Solo

Kau rela mengayuh sepeda ontel kesayanganmu tuk menjemputnya di tengah guyuran hujan deras yang berjarak 10 km

Saat anak-anakmu telat pulang ke rumah, maka kau pun absen satu-satu, walau mereka sudah dewasa

 

Ayah,

Pantas saja anak-anakmu begitu hormat dan segan

Pantas saja anak-anakmu MALU

Malu jika mengecewakanmu

Malu untuk menjadi anak nakal

Malu jika tidak bisa membalas kebaikanmu

Malu untuk berbuat yang melenceng dari nasehatmu

Malu jika tidak bisa mencontohmu suatu saat nanti menjadi seorang Ayah

 

Ayah,

Bahkan dimasa senjamu pun, di usia 76 tahun

Kau masih sering menelepon menanyakan kabar kelima anakmu, yang tersebar diberbagai kota di Jakarta, Semarang, Kediri dan Kebumen

Nasehatmu pun didengarkan oleh para tetangga sekitar dari remaja sampai para orang tua

Jika ada percekcokan antar tetangga, kau sering menjadi juru damai

Begitu dipercayanya, saat tetangga Joko dan Tono cekcok, diam-diam Joko datang ke rumah untuk curhat dan lucunya keesokan harinya pun Tono diam-diam juga datang ke rumah untuk tujuan yang sama. Akhirnya pun scenario perdamaian dilakukan dengan mudah

Cerita itu tidak hanya sekali tapi saya dengar berkali-kali, kau sering diminta menjadi juru damai

 

Ayah,

Sudah lebih 23 tahun aku merantau di Jakarta, selama itu pula aku selalu rindu pulang kampung

Hanya karena rindu mendengarkan cerita dan pituturmu (nasehat)

Begitu banyak pitutur yang sudah engkau bagikan kepada kami, anak-anakmu

 

Ini sedikit pitutur yang mampu saya ingat itu:

Anakku, jadilah orang yang rendah diri dan mawas diri karena manusia punya 3L: Lali (lupa), Luput (kehilangan) & Leno (apes)

Anakku, jadilah kau pribadi yang “nyuguh doyan ngombe” atau bahasa kerennya walk the talk, jika nasehati anak tidak meroko ya kamu jangan merokok

Anakku, jadi orang Ojo Dumeh (jangan mentang-mentang), Ojo Gumunan, dan Ojo Kagetan.

Anakku, menjadilah pribadi yang mengejar kebahagiaan batin terlebih dahulu dibandingkan bahagia lahir, jangan dibalik. Menjadi Bahagia, bukan pengen terlihat Bahagia

Anakku, ingatlah hak kita setelah menikah itu hanya separuh saja, karna pasangan kita dalam Bahasa jawa di sebut ‘garwo’ atai sigaraning jiwo (belahan/ separuh jiwa). Sisa kan setengah ruangnya untuk pasangan kita

Anakku, jadilah pribadi yang “nrimo ing pangdum”, syukuri nikmat yang kau terima berapapun jumlahnya, jangan iri dengan orang lain

Anakku, janganlah adigang adigung adiguna, jangan sekedar mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian yang dimiliki

Anakku, bisalah berempati kepada orang lain

 

Ayah,

Di usia senjamu kau pun selalu berkeinginan untuk tidak merepotkan anak-anakmu

Aku pun sering mendengar doa-doa terindah dari lisanmu, doa untuk kebaikkan anak-anakmu, cucu-cucumu dan cicit-cicitmu

 

Ayah,

Sepertinya tinta ini tak akan mampu menuliskan semua pengorbanan dan pituturmu selama ini

Sering air mata ku tertumpah tak tertahankan saat sungkeman dengan mu di Raya Idul Fitri

Menangis mengingat perjuanganmu yang begitu besar buat keluarga tercinta

Yang tentu tak kan mampu ku membalasnya

Disaat wabah Covid19 akhir-akhir ini, kamu pun sering telpon ke kami disertai doa tulus untuk keselamatan dan kesehatan anak-anak, cucu-cucu dan cicit-cicitmu

Hanya doa terbaik yang bisa kupanjatkan untukmu “semoga Allah SWT menganugerahkan kesehatan, hidayah, rahmat, keberkahan usia, dimudahkan menjalani ibadah dan diringankan menjalani masa senjamu”

 

Ayah,

Bagiku, engkau adalah role model dan inspirator terbaikku, yang menjadi motivator saat anak-anakmu lemah dan galau

 

Ya Allah, mampukanlah aku menjadi seorang ayah yang menjadi kebanggaan anak-anak dan pasangan, yang mampu membimbingnya ke jannahMu.

Ya Allah, Semoga aku diberikan kekuatan untuk mencontoh Ayahku, walau hanya setengahnya saja.

 

Ditulis dengan penuh cinta untuk Ayah tercintaku, Narto Harjono.

Dari Anandamu, Martoyo

Depok, 12 April 2020

Related posts

Bagaimana Menjadi Ayah Hebat?

Martoyo Harjono

Sharing about Supply Chain Management at University of Indonesia (FEB-UI)

Martoyo Harjono

#Continuous Learning

Martoyo Harjono

Leave a Comment