Martoyo Harjono
Free Writing Personal

Merapi Tak Pernah Inkar Janji…

Cerita perjalanan minggu lalu, tepatnya hari sabtu 21 November 2015, saat itu perusahaan kami, USG Boral mengadakan acara team building ke Jogjakarta dengan salah satu kegiatannya Merapi Tour dengan mobil Jeep.

Perjalanan di mulai di pagi hari jam 8.30 pagi start perjalanan dari hotel 101 dengan 3 bis meluncur ke arah jalan Kaliurang menuju area Merapi Tour. Sekitar 1.5 jam perjalanan dengan bis, tibalah di area yang di tuju. Di sana sudah menunggu banyak mobil Jeep beserta driver yang siap menemani perjalanan menyusuri Gunung Merapi tuk napak tilas dan mneyaksikan sisa letusan Gunung Merapi dan kedahsyatan wedus gembelnya.

Tampak semua peserta tim building yang berjumlah sekitar 85 orang sumringah dan terlihat wajah-wajah tak sabar untuk segera berpetualang dengan mobil Jeep.

Tak disangka ternyata kita semua disambut dulu dengan snack ringan khas masyaratakat setempat, ada jatah (uli) plus tempe bacem, kripik singkong yang menemani kopi dan teh hangat yang maknyusss di minum di udara dingin khas lereng Merapi.

Usai peserta menikmati snack sambil menghirup udara dingin sejenak, panitia mengundang seluruh peserta untuk ice breaking dan kompetisi perkelompok agar suasana tambah hangat dan smakin meriah.

Jam menunjukkan waktu jam 11 siang, waktu untuk bersiap menaiki Jeep masing-masing sesuai pembagian kelompok. Rata-rata mobil Jeep ini berusia cukup tua, buatan tahun 70-an namun performa yang luar biasa sangat kuat tuk menaklukan medan terjal berbatu dan menyusuri sungai Kuning Merapi. Jeep ini terbuka tanpa atap dan sebagian tanpa kaca depan, termasuk mobil yang saya tumpangin, tanpa atap dan tanpa kaca depan. Melihatnya saja, sungguh memacu andrenalin saya. Walau awalnya sempat ragu-ragu apakah bisa turut serta dalam Merapi tour dengan Jeep ini, mengingat kaki kiri belum pulih 100% pasca operasi archiles tendon 2 bulan lalu. Namun dengan niat dan semangat yang kuat, bismillah saya beranikan untuk ikut sekaligus sarana latihan memotivasi diri bahwa jika kita mau, maka kita akan mampu dan bisa…akhirnya berlanjut berpetualangan dengan Jeep tua perkasa itu.

Saya berkesempatan duduk di kursi depan samping driver Jeep namanya mas Yusuf, selama perjalanan saya sempatkan ngobrol sana-sini untuk menggali informasi dan cerita sebanyak-banyaknya sambil menikmati suara deru mesin Jeep yang cetar membahana.

“Kapan fenomena wisata Jeep ini mulai dan sudah berapa total Jeep di Merapi ini?” tanyaku ke mas Yusuf. “Oh wisata Jeep ini baru mulai pasca gunung Merapi meletus hebat di tahun 2010 dimana Mbah Marijan sang penunggu gunung Merapi pun juga meninggal pas kejadian itu. Saat ini total Jeep yang tersedia sekitar 400 orang yang didatangkan dari berbagai daerah” kata mas Yusuf menjelaskan.

Dengan adanya wisata Merapi tour ini, saat ini banyak masyarakat asli Merapi yang mendapatkan pekerjaan tambahan dengan berprofesi sebagai pemandu wisata, driver Jeep, driver Ojeg sepeda motor Trail untuk menyusuri Merapi, Sungai Gendol di lanjut sampai banker di lereng Merapi dekat rumah Mbah Marijan. Masyarakat kebih berdaya dan ekonomi membaik paska Merapi meletus. Sudah sangat jarang terlihat pemuda penganguran tanpa pekerjaan saat ini.

“MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI”, tulisan itu terpampang di salah satu museum mini milik warga yang sempat mengumpulkan sisa-sisa harta benda pasca terkena letusan merapi dengan wedus gembelnya. Jam dinding yang menunjukkan saat kejadian menimpa dan dua kerangka sapi di samping rumah yang disusun kembali yang mengingatkan kita akan dahsyatnya kejadian saat itu dengan suhu mencapai ribuan celcius.

“MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI”, dengan makna bahwa akan meletus dengan tanda-tanda permulaan yang sangat jelas bagi masyarakat sekitar, pun sangat jelas bagi hewan penghuni kawasan Merapi. Korban yang meninggal biasanya karena engan untuk pindah walaupun sudah di ingatkan oleh pamong desa setempat, termasuk Mbah Marijan yang engan untuk pindah. saat itu.

Namun Merapi juga tidak pernah ingkar janji, untuk selalu memberikan penghidupan lebih baik melalui tanah yang semakin subur dan ekonomi yang lebih maju pasca meletus. Seperti ibarat judul dalam sebuah film ‘sengsara membawa nikmat’. Bahkan cerita dari warga setempat, saat ini lokasi banker Merapi menjadi tujuan obyek wisata dengan membuka pasar oleh-oleh disekitar bunker dengan memberdayakan masyarakat asli sekitar lokasi, jadi syarat menjadi penjual di sana adalah warga aseli sekitar lokasi Merapi. Bahkan, ada yang ekonominya maju punya beberapa mobil dan Jeep, dari yang sebelumnya tidak punya mobil sama sekali dan ekonomi masih susah.

Setiba lokasi bunker Merapi dekat rumah Mbah Marijan, saya sempatkan mampir di warung kopi dan ngobrol dengan bapak-bapak driver Jeep dan ibu-ibu penunggu warung di sana. Obrolan seru dan ngalor-ngidul ngak jelas, mereka bilang bahwa mereka ke sini hanya untuk jualan di pagi hari dan sorenya pulang kembali ke rumah yang baru yang disediakan oleh pemerintah pasca gunung meletus, jadi saat ini seluruh penduduk di radius berbahaya Merapi tidak boleh membangun rumah lama mereka disekitar kawasan berbahaya. Saya pun tergelitik untuk bertanya ke warga, “trus siapa yang menunggu warung-warung ini beserta barang dagangannya ketika ditinggal pulang sore hari?”. “Warung dan barang dagangan kita tinggal semua di sini dan tidak sedikitpun yang kita bawa pulang.” Jawab ibu-ibu itu singkat. “Trus, jika ada maling dan hilang gimana, Bu?” tanyaku heran.

“Kami PASRAH dan IKHLAS Mas, jika ada maling dan barang ini hilang. Lha wong harta dan rumah kami yang berpuluh-puluh tahun kita kumpulkan saja hanya dalam hitungan beberapa saat terkena letusan gunung Merapi, semua hilang dan tak tersisa rata dengan tanah. Jadi kami sudah terbiasa IKHLAS untuk harta benda ini”, jawabnya polos dan ringan. Jawaban yang Jlebb banget bagi saya yang mendengar, ini jawaban singkat yang penuh makna dan filosofis. Bahwa harta ini adalah titipan sang Maha Pencipta dan kapan saja bisa diminta kembali.

Dan ini oleh-oleh yang paling berkesan selama Merapi Tour saat ini, yaitu  oleh-oleh mengenai kehidupan dan cara memaknai kehidupan, dengan terus BERUSAHA pantang mundur dan IKHLAS sedalam-dalamnya. Kata yang ringan di lidah namun berat untuk menjalaninya. Dan Merapi dan masyarakat merapi sudah mempraktekkan dalan kehidupan sehari-hari. Gimana dengan kita?

#MerapiTour #Jeefcantik #Ikhlas

Ditulis di ruang tunggu saat servis mobil di setiajaya depok, Sabtu 28 Nov15

Related posts

Visionary Life

Martoyo Harjono

Why Not, Sir..?

Martoyo Harjono

Alumni Sharing Session – by ILUNI FEB UI Bidang Almamater

Martoyo Harjono

Leave a Comment