Martoyo Harjono
Family

Bagaimana Menjadi Ayah Hebat?

Hari sabtu pagi tanggal 1 September, TK AlFikri Depok mengadakan bincang-bincang santai dengan tema “Bagaiman Menjadi Ayah Hebat?” dengan pembicara Ayah Irwan Rinaldi yaitu salah satu pendiri Yayasan Buah Hati Bersama Bunda Elly Risman.¬†Yang diundang dalam acara bincang-bincang santai ini sebenarnya adalah para Ayah, sebagai rangkaian dari tema pembelajaran “Aku dan Ayah”. Walau undangan untuk Ayah, tapi para Bundanya ikutan. Mungkin untuk mendampingi para Ayah..hehe.

Untuk di ketahui TKIF Alfikri ini selalu mengadakan pembelajaran untuk anak-anak dengan konsep tematik, dimana tema disesuaikan dengan pembelajaran yang ingin diberikan kepada anak didik. Pembelajaran tematik ini akan menghadirkan experiential learning bagi anak-anak, dimana anak-anak langsung belajar dengan melibatkan semua indra manusia. Dengan bermain langsung, bercerita, menghadirkan langsung alat-alat peraga dan lain-lain. Jadi anak bias mendapatkan pelajaran dengan pemahaman yang awet dengan praktik langsung, bukan dengan cara menghafal kayak kita doeloe.

Kembali ke acara bincang-bincang santai itu, Ayah Irwan memulai dengan sebuah cerita bahwa saat ini sebagian besar anak-anak, khususnya di urban mengalamai kekurangan vitamin A, yaitu vitamin Ayah. Problemnya Ayah kurang (tidak) hadir di tengah anak-anak kita secara psikologis saat di butuhkan untuk pengasuhan. Ayah ada namun tiada. Hmm…serem juga ya, ada namun tiada.

Trus apa dong syarat Ayah hebat itu? intinya ada dua, yaitu Ayah itu harus DEKAT secara fisik dan LEKAT secara psikologis. Sebenarnya saya yakin semua Ayah pengen dekat dengan Ananda tercinta, namun adanya kendala external menyebabkan keDekatan itu terasa barang mewah. Adanya kesibukkan di kantor, kemacetan di jalan dan berbagai aktivitas lainnya yang menjadi factor external penghalang tersebut. Tantangannya berbeda dengan yang dihadapi Ayah dan kakek kita doeloe, beliau lebih mudah hadir ditengah-tengah anaknya jika sewaktu-waktu diperlukan.

Doeloe, kalau mengacu Ayah qawwam dengan basis agama maka peran ayah itu ada lima: 1. penyambung keturunan (breeder) 2. Pencari nafkah (feeder) 3. Penjaga (protector) 4. Pendidik (educator) dan 5. Objek identifkasi. Namun, saat ini peran Ayah cenderung lebih focus pada poin pertama dan kedua, yaitu sebagai breeder dan feeder. Hal inilah yang menyebabkan ‘fatherless home’, ‘Ayah ada Ayah tiada’.

Apa dampak dari fatherless home tadi? fatherless home menyebabkan usia biologis anak lebih maju dari usia psikologis. Menyebabkan anak kurang matang secara mental. Salah satu cara untuk menghadirkan peran Ayah didalam pola pengasuhan anak adalah dengan ‘pola terlibat langsung’. Saat deket dengan anak-anak Ayah benar-benar terlibat langsung dan focus berinteraksi dengan anak-anak. Jadi hubungan yang penuh MAKNA.

Hindari pola ‘tidak terlibat langsung’. Tantangan utama saat ini adalah gadget, sehingga saat bermain dan berinteraksi dengan anak, Ayah masih fokus dengan handphone dan televisinya. Ayah dekat dengan anak, tapi tidak lekat. Misal anak bermain sendiri padahal Ayah ada di dekat anak dan anak kerjakan PR sendiri padahal Ayah ada di dekat anak.

Di tengah kehidupan manusia modern ini dimana banyaknya factor external yang menghalangi keDEKATan seorang Ayah dengan anak, ternyata menurut penelitian parenthing: hanya di butuhkan 15 menit waktu BERMAKNA setiap hari untuk menjadikan seorang Ayah yang bias DEkat dan LEKAT. Waktu 15 menit tersebut bisa dibagi menjadi waktu-waktu bermakna yang meliputi:

  1. Pagi, dimulai dengan pagi yang ceria, dimulai dengna kalimat positif. Emosi pagi akan menentukan kualitas dan produktifitas sepanjang hari.
  2. Siang, dengan sapa. Anak butuh disapa. Sesekali anak di telp dengan HP dari kantor walau hanya 5 menit. Jika memungkinan siang diisi dengan cerita sederhana agar anak lebih terbuka
  3. Malam, penuh dengan makna. Pendampingan anak sebelum tidur. Upayakan berbagi cerita harian. Jika ada yang baik, kuatkan. Jika buruk hilangkan. Tutup malam dengan tauhid sebab prosesi sebelum tidur ibarat prosesi sebelum mati.

Alhamdulillah banyak pelajaran dan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat di acara bincang-bincang santai ini. Tentunya saya me-share tulisan ini bukan karena saya sudah menjadi Ayah hebat. Saya me-share tulisan ini justru karena saya masih belajar menjadi Ayah hebat untuk anak-anak. Karena menuju Ayah hebat itu adalah bersifat continuous improvement, yang harus di usahakan terus menerus tanpa henti. Karena tantangan setiap zaman akan berbeda.

#Alfikri #AyahHebat #Fathering #Parenthing.

Depok, 2 Sep 2018.

Related posts

Ayah, You Are My Inspiration

Martoyo Harjono

10 Strategi Sang Driver Gojek

Martoyo Harjono

Learn from everybody…eventhough from our kids

Martoyo Harjono

Leave a Comment