ole777 login

ole777 login

ole777 login

ole777 login

Martoyo Harjono
Human Resources Leadership Personal

4 Ways How to Deal with a Bad Boss

Hari minggu kemaren tanggal 12 Januari 2020, ada acara kopdar alumni MMUI lintas angkatan yang dinamakan #KUMBA Series, dikemas dalam bentuk kongkow-kongkow asyikk sambil mendengarkan sharing knowledge dan experience dari para alumni MMUI. #KUMBA ini singkatan Kumpul Bahagia Bareng Alumni MMUI Lintas Angkatan. Kata kuncinya ‘kumpul’ dan ‘bahagia’, secara neuroscience dengan silaturahmi (off-line meeting) akan membuat otak kita bahagia. Tujuan utamanya sih silaturahmi, bonusnya adalah dapat ilmu baru dari rekan-rekan dan senior-senior yang hadir. Bertempat di cafenya Om Marius, Indische Coffe di Bintaro. Dalam sesi ini tema yang dipaparkan adalah terkait dengan ‘Neuroscience for Management’ yang di bawakan Pak Bambang dari NLC dan tema ‘Creating The Great Followers’ oleh Bro Robert. Acara tambah asyikk dan kusyuk dengan di temani menu tradisional yang maknyusss, ada pecel madiun, bandeng presto, ikan wader, bakwan jagung, tempe mendoan, sayur lodeh dan karak. Ibarat IPK, menu ini saya kasih nilai 4 atau A+ …..menu terwueeenak versi saya. Makan sepuasnya n udah gitu gratiss lagi, sadis kan. Thanks om Marius.

Satu hal ‘oleh-oleh’ yang ingin saya share dalam tulisan ini adalah saat membahas bahwa untuk menjadi Good Leader itu haruslah belajar dulu menjadi Good Follower. Katanya All GREAT LEADERS ARE GOOD FOLLOWERS. Saat membahas tema Good Follower di akhir sesi ini, tiba-tiba ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta, “Jika tiba-tiba mendapatkann Boss yang TIDAK BAGUS attitude dan behaviour-nya, bagaimana kita harus bersikap menghadapinya? apakah kita harus nurut terus atau tidak?” diskusipun semakin seru tatkala mengambil contoh kasus yang sedang hot saat ini yang dibahas berbagai media mainstream dan medsos, yaitu case nya AA dengan Moge Harley dan sepeda Brompton-nya. Saat AA di pecat Pak Eric Tohir sebagai menteri BUMN, media banyak meliput suasana mengharukan dimana banyak karyawan Garuda yang senang bahkan sebagian syukuran potong tumpeng. “Bagaimana seandainya kita mendapatkan Boss seperti AA, bagaimana sikap kita sebagai anak buahnya AA dikaitkan dengan menjadi ‘Good Follower’? apakah kita harus mengikuti kata Big Boss atau menentang ya?”

Sebelum melanjutkan membaca artikel ini, saya meminta Anda membayangkan sejenak seandainya punya Boss seperti ini?

———

Nah, akhirnya diskusipun berlangsung serruu dan ramee terkait dengan bagaimana cara menghadapi bad boss ini. Bad boss biasanya cenderung overpower terhadap karyawan dengan ‘my way or the highway’ attitude dan bersifat autocratic “one who rules by himself“, kepatuhan penuh.

Berikut adalah TIPS yang di share oleh para senior yang hadir bagaimana cara menghadapi bad boss agar tetap survive.

  1. Be professional

Untuk menjadi good follower tidak berarti harus mengorbankan integritas dan values kita, sebagai anak buah kita harus menjaga profesionalitas dalam bekerja. Pastikan kita men-deliver hasil terbaik untuk pekerjaan yang menjadi tanggungjawab kita. Plus, ingat kata-kata bijak ini “knowledge is important, but CHARACTHER is more”. Jangan pernah mengorbankan integritas kita, jika di ajak untuk hal-hal yang melanggar maka tolaklah dengan alasan dan cara yang profesional. Ternyata menjadi Good Follower itu tidak boleh menghalalkan segala cara.

2. Loyal to the company, not to the Boss

Sebagai seorang karyawan, loyalitas kita adalah ke perusahaan, bukan kepada bos kita. Kembali ke context AA yang heboh akhir-2 ini, seandainya kita menjadi salah satu direksinya AA dan diajak untuk ikut pesawat yang mau membawa motor Harley dan sepeda Brompton secara illegal, apakah kita akan ngikut? Jika menolak ikut, bagaimana caranya?

Tentunya secara manusiawi kita akan sangat senang jika mendapatkan undangan dari big boss seperti ini, apalagi jalan-jalan ke Perancis gatis plus dengan layanan first class. SANGAT SENANG, inilah respon emosional jangka pendek otak kita, menurut ilmu neuroscience respon emotional ini dilakukan oleh amigdala (bagian otak yang merespon emosi kita). Namun, ilmu neuroscience mengatakan  bahwa jangan langsung mengambil keputusan penting saat kondisi kita sedang emosional seperti saat sangat sedih, marah, panik, galau atau sangat senang, saat terima tawaran jalan-jalan ke Perancis ini. Berhentilah sejenak sampai kondisi emosional kita lebih tenang dan stabil. Kemudian berpikirlah secara rasional apakah keputusan ini tidak melanggar etika dan peraturan perusahaan. Apakah tindakan ini baik dan menguntungkan perusahaan atau tidak. Ikutkan rasional kita dalam mengambil keputusan, bukan hanya sekedar emosional kita.

3. Transfer of liability

Jika kita diperintahkan melakukan hal-hal yang melanggar oleh bos kita, maka selalu sampaikan feedback kepada bos kita dengan membawa data dan fakta bahwa perbuatan/keputusan itu tidak sesuai dengan data dan fakta yang kita miliki. Sampaikan semua secara tertulis.

Jika Bos masih memaksa, maka pastikan kita sudah melakukan ‘transfer of liability’, bagaimana sih maksudnya? Contoh pertama, misal dalam hal pembukuan, misal terjadi dispute pengakuan pendapatan maka mintalah opini resmi dari independence auditor yang berwenang. Jadi, gunakan opini independence auditor untuk mengambil keputusan ini, baik hasil akhirnya menerima atau menolak usulan Boss. Strategi ini di sebut juga dengan ‘flanking’.

Contoh kedua, jika Boss memberikan insentif tertentu kepada pelangan tertentu yang kita mengetahui bahwa ini tidak sesuai dengan ketentuan yang tertulis, maka disaat kita menolak usulan ini maka sampaikan semua alasan secara lengkap dan sajikan data yang mendukung argumentasi kita. Namun jika Boss memaksa menggunakan otoritasnya maka pastikan Boss memberikan approval secara tertulis. Kalau perlu kita minta persetujuan juga ke komite audit sebelum dieksekusi. Ingat semua approval haruslah tertulis ya, agar pada saat ada audit nanti kita bisa membuktikannya.

4. Berdoa dan Dzikir 

Salah satu peserta, ada yang menambahkan poin satu lagi yaitu BERDOA dan DZIKIR, yaitu selalu mengingat kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam agar selalu di hidupkan hati nurani kita pada saat mengambil keputusan. Agar mampu membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang salah (bathil). Karena biasanya hati (qolbu) itu lebih sensitif dan tajam untuk memilah antara yang haq dan bathil.

Setelah melakukan ke-empat tips di atas, kita pun harus ingat juga bahwa bad boss pun juga manusia, pasti ada sisi-sisi positifnya juga. Temukan itu agar kita sebagai anak buah tidak terlalu sakit hati dan tertekan. Di saat merasa ketidak-sukaanya dengan boss, tetaplah positif thinking dengan mencari sisi-sisi positif dari sang boss. Walau itu sesulit mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Salah satu  lesson learnt terpenting yang perlu kita ambil dari para bad boss ini adalah minimal kita jangan sampai meniru perbuatannya. Jangan-jangan, secara tak sadar kita masuk kategori bad boss di mata tim kita. Jangan-jangan tim kita akan syukuran dan tumpengan saat kita pensiun maupun resign nanti. Nah lu..! cermin mana nih?!

Teriring harapan, semoga kita semua bisa menjadi Good Leader sekaligus menjadi Good Follower.

Salam pembelajar, 12 Jan 2020

*MTY*

Related posts

8 to be GREAT

Martoyo Harjono

Manager vs Leader

Martoyo Harjono

Sudah Kerja Keras Tapi Masih Miskin, Mengapa?

Martoyo Harjono

Leave a Comment