Martoyo Harjono
Business Strategy Leadership

Managing Expectation

Orang yang paling bahagia di Premier League musim lalu 2015/2016 adalah Claudio Ranieri. Foto di atas menunjukkan momen-momen bahagia saat menjuarai liga musim lalu. Amazing and fantastic achievement..!

Claudio Ranieri adalah pelatih fenomena yang berhasil membawa Leicester City menjuarai Premier League tahun lalu musim 2015/2016. Claudio Ranieri berhasil membawa club yang baru saja promosi ke Premier League menjadi juara mengalahkan club-club besar seperti MU, Chelsea, Mencester City, Liverpool, Arsenal yang selama ini exist dan dikenal. Semua orang tidak pernah menyangka Leicester akan jadi Juara Premier League, mengingat ini adalah tim gurem di Liga Ingris yang mungkin sebagian besar dari pembaca belum pernah dengar club ini sebelumnya. Namun dengan pencapaian yang luar biasa pada musim lalu, membuat nama Leicester City semakin dikenal dan disejajarkan dengan nama-nama besar seperti MU, Chelsea, Mencester City dan Liverpool, walaupun tidak ada pemain-pemain yang tergolong mahal dan terkenal sebelumnya.

Yang menjadi andalan Leicester City adalah kerjasama dan kekompakan tim. Seakan-akan prestasi Leicester City musim lalu itu bagaikan from zero to be hero atau from nothing to be something. Dalam dunia sepak bola, factor pelatih sangatlah signifikan dalam menggerakkan tim untuk meraih gelar juara. Keberhasilan Leicester City ini pun tidak terlepas dari keberhasilan dan kehebatan sang arsitek tim yaitu Coach Ranieri. Ranieri di sanjung dan dielu-elukan oleh seluruh stakeholder tim dari para pemain, pemilik dan fans. Ranieri menjadi pembicaran dimana-mana dan diwawancarai banyak media terkait dengan tips dan strategi nya mampu membawa club gurem menjadi juara Premier League mengalahkan para raksasa club yang selama ini exist. Dalam bahasa gampangnya Ranieri sudah berhasil memenuhi seluruh ekpektasi dari stakeholder, bahkan melebihi ekpektasi dari target yang ditetapkan dengan menjadi juara Premier League pertama kalinya bagi club ini.

Semua bersorak sorai, bergembira, pesta pun dilakukan oleh seluruh fans Leicester City. Sang pelatih dan para pemain pun mendapatkan bonus yang besar.

Tantangan baru Premier League 2017/2018 

Tantangan lebih besar adalah saat Premier League musim baru 2017 bergulir lagi, apakah Ranieri beserta skuadnya mampu mempertahankan kinerja dan prestasinya di Liga sepakbola yang paling kompetitif di dunia ini?

Tentunya pemilik club memasang taget yang tinggi kepada Ranieri untuk bisa memenangkan liga termasyur di dunia ini.

Jika musim 2016, Ranieri melalui musim itu dengan mulus dan menjadi kuda hitam yang akhirnya menjuarai Premiere League untuk pertama kalinya bagi club tersebut. Namun, ternyata musim baru 2017 itu tidak semulus musim 2016, torehan hasil yang buruk di awal musim dialami oleh Leicester City.

Yang akhirnya pemilik club memecat Claudio Ranieri sebagai pelatih Leicester City dan di gantikan dengan pelatih baru yaitu Craig Shakespeare.

Managing expectation

Pastinya fans Leicester City sempat shock atas keputusan cepat pemecatan Claudio Ranieri ini. Betapa tidak, di tahun pertamanya sebagai pelatih, Ranieri mampu mempersembahkan juara Premiere League untuk pertama kali dalam sejarah club tersebut dengan mengalahkan raksasa-raksasa sepak bola seperti MU, Chelsea, Manchester City, Liverpool, Arsenal dan Totenham.

Pembelajaran yang bisa di petik adalah seorang pemimpin harus mampu untuk men-deliver result sesuai dengan expektasi dari shareholders. Seorang pemimpin yang baik harus mempunyai seni managing expectation dari shareholders. Yang harus bisa di berikan adalah result dan kesuksean saat ini dan dimasa depan. Seorang pemimpin tidak bisa hanya menceritakan dan mengandalkan kesuksesan dan pencapaian masa lalu. Walau sukses luar biasa di masa lalu, tapi keinginan shareholders adalah kesuksesan saat ini dan masa depan, bukan masa lalu.

Karena kesuksesan masa lalu sudah menjadi sejarah.

Belajar dari Arsene Wenger

Sepertinya untuk hal managing expectation, Ranieri harus belajar dari pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Wenger melatih Arsenal sejak tahun 1996, artinya sudah 20 tahun lebih melatih Wenger. Dan sampai hari ini Wenger masih menjadi pelatih Arsenal walaupun sudah satu dekade tidak memberikan gelar juara Liga Ingris. Terakhir The Gunners menjadi juara Liga Ingris adalah tahun 2003/2004.

Mengapa Wenger tetap menjadi pelatih the Gunners walaupun lebih dari sepuluh tahun tidak memberikan gelar juara Liga? Karena Wenger bisa managing expectation dari shareholdersnya yaitu walaupun tidak juara, Arsenal hampir selalu berada di posisi empat besar yang artinya bisa tampil di liga Champion. Dan yang paling penting menghasilkan cashflow yang oke buat shareholders dengan cara sedikit belanja pemain terkenal dan menjualnya beberapa pemain top dengan nilai mahal, dan selanjutnya menerbitkan kembali talenta muda dari akademi Arsenal. Jadi jangan heran jika Wenger tidak di pecat walaupun sudah 20 tahun lebih melatih Arsenal walau puasa gelar Liga Ingris sejak 2003/2004.

Di dalam dunia professional pun tugas terpenting seorang pimpinan adalah managing expectation dari para stakeholders, terutama shareholders.

#ManagingExpectation #Leader #Sukses #Ranieri #LeicesterCity

Related posts

Ternyata, Bahagia itu Mudah..!

Martoyo Harjono

Manager vs Leader

Martoyo Harjono

How Leggo, IBM and Harley Davidson Start to Transform Their Business?

Martoyo Harjono

Leave a Comment