Martoyo Harjono
Business Strategy

How Leggo, IBM and Harley Davidson Start to Transform Their Business?

See the source image

Sekarang, kita mengenal ketiga perusahaan ini menjadi perusahaan yang sangat sukses dengan segmennya masing-masing. Sekarang, Leggo di kenal salah satu perusahaan mainan terbesar di dunia. Sekarang, IBM dikenal salah satu perusahaan terbesar yang menyediakan jasa internet of things dan clouds terbesar. Sekarang, Harley Davidson (HD) menjadi produsen motor gede terbesar di dunia.

Namun tau kah Anda bahwa ketika perusahaan tersebut pernah mengalami krisis yang sangat parah dan hampir bangkrut setelah masa awal kejayaan? Ketiga perusahaan nyaris saja mati di telan persaingan.

Sejak awal Leggo di kenal toys manufacturer yang sangat inovatif dengan produk-produknya. Namun, ternyata dari tahun ke tahun kinerja perusahaan menurun drastis. Leggo pun harus memecat ribuan karyawannya untuk mengurangi beban perusahaan. Namun kinerja perusahaan tidak juga membaik, padahal inovasi selalu di jalankan. Apa yang salah dengan Leggo saat itu? Dan bagaimana Leggo bias melakukan turn around dan transformasi bisnisnya?

Nasib IBM pun mirip dengan Leggo. Setelah menjadi raksasa komputer di dunia, kinerja IBM menurun drastis karena 90 persen portfolio B2B menunjukkan tren penurunan yang tajam. Ribuan karyawan pun dikurangi untuk menyelamatkan beban keuangan perusahaan. Namun strategi ini pun tidak banyak menolong. Apa yang salah dengan IBM saat itu? dan Apa yang dilakukan oleh manajemen IBM untuk turn around bisnisnya?

Hal serupa juga di alami oleh HD setelah masa awal kejayaannya. Lantas apa yang di lakukan oleh HD untuk bisa turn around bisnisnya?

Learning points dari Leggo, IBM dan HD

Kesalahan awal mereka adalah mulai melupakan tren dan kecenderungan kebutuhan konsumennya. Mereka asyik melakukan inovasi dan perbaikan produk yang menurut mereka bagus dan hebat. Produk mereka hebat. Namun, tidak menurut konsumennya. Pelan-pelan mereka melupakan tren dari permintaan dan kebutuhan konsumennya. Alhasil, ketiga perusahaan mengalami krisis setelah masa awal kejayaanya karena di tinggalkan oleh konsumennya.

Bagaimana ketiga perusahaan tersebut kembali bisa turn around kembali yang akhirnya menjadi perusahaan terbesar di segmen nya masing-masing seperti sekarang?

Mereka memulai dengan ‘knowing their customers’ need’ dengan melakukan riset mendalam kebutuhan para pelanggan. Mencari tahu apa yang saat ini menjadi problem dan concern para pelanggannya. Mencari tahu tren kebutuhan dan tantangan di industrinya. Bahkan untuk mencari tahu kebutuhan riil konsumen, IBM pernah mewajibkan seluruh executive nya untuk menemui secara langsung (face to face) minimal lima pelanggannya untuk sekedar mendengarkan feedback dan concern mereka.

Sebenarnya pengen meng-explore lebih mendalam strategy ketiga perusahaan tersebut, namun karena sudah menggantuk…hehe..singkat cerita setelah mendapatkan informasi yang solid terkait dengan kebutuhan pelanggan dan tren industry, akhirnya ketiga perusahaan tersebut melakukan transformasi bisnis. Dan hasilnya bisa kita lihat sampai saat ini. Leggo, IBM dan HD menjadi perusahaan terbesar di dunia di segmennya masing-masing.

So, knowing your customers’ need is the key to start turn around and transform our business.

#businessTransformation #turnaround

Salam #BeraniBerubah,

MTY, Depok, 13Feb18

 

Note: Tulisan ini terinspirasi dari channel youtube mas Indrawan saat sambal nyetir pulang kantor hari ini terkait business transformation. 

Related posts

8 to be GREAT

Martoyo Harjono

Why Not, Sir..?

Martoyo Harjono

Customer Focus..!

Martoyo Harjono

Leave a Comment